Skip to main content

SEJARAH KELAPA SAWIT

SEJARAH KELAPA SAWIT DI INDONESIA


Kelapa sawit (Elaeis guieneensis jacq) merupakan tumbuhan tropis dalam famili Palmae, yang berasal dari Guinea , Afrika Barat, dengan nama seorang penemu Jacquin. Pada tahun 1848 kelapa sawit ditanam pertama kali dikebun Raya Bogor, selanjutnya menyebar ke Muaraenim, Musi Ulu dan Belitung pada 1869 – 1890.
Perkebunan kelapa sawit pertama di Indonesia dirintis oleh K.Schadt, pengusaha jerman di tanah Itam Ulu, Sumatera Utara pada tahun 1911, juga pada tahun yang sama oleh M.Adrien Hallet, pengusaha Belgia membuka kebun kelapa sawit di Sungai Liput, Aceh Timur dan di Pulau Raja, Sumatera Utara.

Pada tahun 1915 luas kebun kelapa sawit 2.715 ha, pada tahun 1939 tercatat 66 perusahaan perkebunan yang ditangani pengusaha Belanda  dengan luas ± 100.000 ha dan Indonesia menjadi produsen dan eksportir minyak sawit terbesar di dunia. Pada waktu itu minyak sawit banyak dimanfaatkan sebagai minyak pelumas.
Tahun 1942 – 1945 perkembangan kebun terhenti, sebagian areal ditanami pangan dan pabrik-pabrik tidak beroperasi, dari 66 perusahaan hanya 47 buah diantaranya dapat dibangun kembali setelah diserahkan kembali kepada pemiliknya pada tahun 1947.


Pada tahun 1957 perkebunan milik Kolonial Belanda dinasionalisasi dibawah control Perusahaan Perkebunan Negara Baru. Sejak Perang Dunia I hingga tahun 1968 perkembangan produksi perkebunan merosot, sehingga pada tahun 1979 posisi Indonesia bergeser ke urutan ketiga setelah Malaysia dan Nigeria. Pada tahun 1967 Investasi asing dibuka kembali, sehingga sejak saat itu sejumlah pengusaha asing mulai masuk ke sector perkebunan. Luas areal kebun kelapa sawit 105.808 ha, diantaranya 65.573 ha milik perkebunan negara.



Sejak 1968 dibukanya investasi asing membawa pengaruh positif terhadap sector perkebunan. Tahun 1968 berdirinya PT. Socfin, tahun 1970 berdirinya SA Sipef NV, dll. Disamping itu perkebunan negara diganti menjadi Perseroan Terbatas Perkebunan. Luas perkebunan negara meningkat dari 79.209 ha ditahun 1968 menjadi 163.465 ditahun 1978, demikian juga perkebunan swasta meningkat dari 40.451 ha menjadi 86.651.
Pada tahun 1977 pemerintah memacu perkebunan kelapa sawit dan mulai melibatkan rakyat dengan pola pembinaan inti terhadap plasma yaitu: Perkebunan Inti Rakyat atau Nucleus Estate and Smallhoder Scheme (PIR atau NES) dengan adanya bantuan Bank Dunia, ADB dan Perbankan Nasional.


Sumber : Buku Dokumen Intern PT. Perkebunan Nusantara

Semoga Bermanfaat😊

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Morfologi Tanaman Kelapa Sawit

Morfologi dan Pertumbuhan Kelapa Sawit Tanaman Kelapa Sawit berumah satu atau monoecious yang artinya bunga jantan dan betina terdapat pada satu pohon, sehingga penyerbukan dapat terjadi sendiri maupun silang.        1.  Akar Berfungsi untuk menunjang struktur batang, menyerap unsur hara dan air dari dalam tanah dan sebagai salah satu alat respirasi. System perakaran merupakan system serabut terdiri dari akar primer, sekunder, terrier, dan kuarterner. Masing-masing berukuran 6-10 mm, 2-4 mm, 0,7-1,2 mm dan 0,2-0,8 mm. Akar kuarterner diasumsikan sebagai akar absorbsi utama (feeding root). System perakaran yang aktif berada pada kedalaman 5-35cm. Berdasarkan model simulasi tentang arsitektur dan perkembangan system perakaran kelapa sawit, pemenuhan akar absorbs pada horizon permukaan tanah telah terjadi pada tahun ke-5 dan mendapatkan hara dan air dalam tanah. Pertumbuhan dan percabangan akar dapat dipacu bila konsentrasi hara (terutama N dan P) cukup besar. Kerapatan akar

KLASIFIKASI DAN PENYEBARAN KELAPA SAWIT

Klasifikasi dan Penyebaran KELAPA SAWIT Berdasarkan metoda klasifikasi Carolus Linnaeus, Divisi                 : Embryophita Siphonagama Kelas                 : Angiospermae Ordo                  : Monocotyledonae Family               : Aracaceae (dahulu disebut Palmae) Subfamily           : Cocoideae Genus                : Elaeis Spesies             :   Elaeis guineensis Jacq.      Elaeis oleifera (H.B.K) Cortes    Elaeis odora Elaeis guineensis jacq. Dengan jumlah kromosom n=16 atau 2n=8a=24C, (menurut Darlington & Wylie, Arasu memiliki 32 kromosom). Elaeis berasal dari kata Elaion (Yunani=minyak), guineensis berasal dari kata Guinea (Pantai Barat, Afrika) dan Jacq singkatan dari Jacquin, seorang botanist Amerika. Varitas dari Elaeis guineensis Jacq. Cukup banyak diklasifikasikan dalam berbagai hal. Misalnya : tipe buah, bentuk luar, tabel cangkang, warna buah, dll. Berdasarkan warna buah dikenal varitas : ·          Nigrescens         : b